Situs Portal Berita Stiperamuntai – 02 Mei 2026 | Pemerintah terus memperkuat upaya swasembada pangan nasional dengan mengoptimalkan potensi kawasan transmigrasi. Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menilai ketersediaan lahan luas dan sumber daya manusia di kawasan tersebut menjadi modal strategis untuk meningkatkan produksi pangan, tidak hanya beras tetapi juga komoditas lainnya.
Penjelasan Menteri Transmigrasi
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengatakan sinergi lintas kementerian telah dilakukan guna mempercepat pengembangan kawasan transmigrasi sebagai lumbung pangan baru. Ia menjelaskan bahwa kerja sama sudah berjalan dengan beberapa kementerian lainnya.
"Kerja sama sudah berjalan. Kami sudah memiliki MoU dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Desa, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian ATR/BPN, hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan," ujar Iftitah dalam acara peluncuran edisi bahasa Inggris buku "Xi Jinping: The Governance of China (Volume V)" di Jakarta.
Konsep Swasembada Pangan
Ia menegaskan, konsep swasembada pangan kini tidak lagi terbatas pada produksi padi, tetapi juga mencakup sektor perikanan dan komoditas lainnya. "Sekarang swasembada pangan tidak hanya soal padi, tapi juga ikan dan sektor lainnya. Ini sudah berjalan dan mulai menunjukkan hasil di beberapa daerah," katanya.
Kontribusi Kawasan Transmigrasi
Tak hanya itu, untuk komoditas hortikultura seperti durian di Parigi Moutong, sekitar 80 persen produksinya juga berasal dari kawasan transmigrasi. Ia menyebut, kekuatan utama kawasan transmigrasi terletak pada dua hal, yakni lahan yang luas dan tenaga kerja dari para transmigran.
"Kekuatan kami ada pada lahan dan sumber daya manusia. Ini menjadi fondasi utama dalam mendorong peningkatan produksi pangan," jelasnya.
Transformasi Transmigrasi
Dalam transformasi transmigrasi, pemerintah kini fokus pada tiga aspek utama, yaitu peningkatan kapasitas pengetahuan dan teknologi, penguatan investasi, serta perluasan akses pasar melalui skema offtaker. "Tiongkok menjadi salah satu offtaker yang kami jajaki untuk membantu pemasaran produk kawasan transmigrasi," ungkapnya.
Lebih lanjut, Iftitah menekankan bahwa persoalan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyangkut martabat manusia yang harus dijaga oleh negara. Sebagai implementasi, pengembangan kawasan transmigrasi kini juga mulai diintegrasikan dengan pendidikan vokasi dan riset pertanian, seperti yang dilakukan di Papua Selatan.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan strategi tersebut, kawasan transmigrasi diharapkan tidak hanya menjadi pusat permukiman, tetapi juga menjadi motor penggerak produksi dan distribusi pangan nasional.
Leave a Reply