Pendaki Asal Jojo Kudus Ditemukan Selamat Setelah Dinyatakan Hilang

Pendaki Asal Jojo Kudus Ditemukan Selamat Setelah Dinyatakan Hilang
Pendaki Asal Jojo Kudus Ditemukan Selamat Setelah Dinyatakan Hilang

Pendakian Gunung Muria

Situs Portal Berita Stiperamuntai – 04 Mei 2026 | Seorang pendaki asal Desa Jojo RT 3 RW 3, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah bernama Mutiara Dhea Jelita (21) yang sempat dinyatakan hilang setelah terpisah dari rombongannya saat turun dari puncak Argopiloso Gunung Muria pada Sabtu (25/4), akhirnya ditemukan oleh tim relawan gabungan.

Setelah dilakukan pencarian oleh relawan, korban sudah berhasil dievakuasi dengan kondisi selamat. Kepala Pelaksana BPBD kabupaten Kudus melalui Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Ahmad Munaji, mengatakan pihaknya menerima laporan adanya pendaki yang hilang dari rekan korban yang turun lebih dahulu dari puncak gunung.

Penyebab Kehilangan

Mereka melaporkan bahwa satu anggota rombongan masih berada di jalur pendakian karena terpisah saat perjalanan turun. Korban akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat oleh tim relawan dari Desa Japan dan warga sekitar yang melakukan penyisiran di jalur pendakian.

Korban ditemukan di jalur menuju pos 1 ternyata ia mengambil jalur yang salah. Korban ditemukan sekitar pukul 20.45 WIB, atau sekitar Tujuh jam lebih setelah dinyatakan hilang sejak pukul 13.30 WIB.

Rincian Pendakian

Informasi yang disampaikan, rombongan pendaki berjumlah delapan orang yakni Septa, Dhea, Dini, Rike, Tasya, Cika, Airin, dan Ajeng. Sebelum berangkat mereka berkumpul di area parkir depan samping Rektorat Universitas Muria Kudus (UMK).

Awalnya, lima orang yakni Dhea, Ajeng, Tasya, Cika, dan Airin menunggu tiga rekannya yang lain sehingga rombongan baru berangkat sekitar pukul 07.30 WIB menuju puncak Argopiloso. Mereka tiba di basecamp sekitar pukul 08.00 WIB dan memulai pendakian sekitar pukul 08.30 WIB.

Rombongan tersebut berhasil mencapai puncak Gunung Argopiloso sekitar pukul 13.00 WIB. Saat hendak turun dari puncak, rombongan kemudian terpisah menjadi dua kelompok. Tim pertama yang terdiri dari Septa, Dhea, Dini, dan Rike turun lebih dahulu sekitar pukul 13.30 WIB.

Sementara tim kedua yang beranggotakan Tasya, Cika, Airin, dan Ajeng baru turun sekitar pukul 14.30 WIB sehingga kedua kelompok tidak saling mengetahui kondisi masing-masing selama perjalanan turun. Pada saat itulah rekan korban mengaku saat perjalanan turun dari puncak hingga mencapai Pos 3, rombongan sempat terpisah dengan Dhea.

Saat dipanggil oleh rekannya, Dhea masih sempat merespon panggilan tersebut, suara korban masih terdengar dari jalur pendakian. Rekan korban juga sempat mendengar suara Dhea yang diduga sedang berbincang dengan beberapa orang di jalur pendakian.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 dan menunggu sekitar satu jam agar Dhea menyusul. Namun hingga waktu tersebut berlalu, Dhea tidak juga tiba di Pos 2. Rombongan kemudian turun dan menunggu di kawasan Air Tiga Rasa (Rejenu) sambil menanyakan kepada sejumlah pendaki lain yang melintas, tetapi para pendaki yang ditanya mengaku tidak bertemu dengan korban.

Penyelamatan

Sementara itu, tim kedua yang turun belakangan berhasil tiba di basecamp dengan selamat bersama beberapa pendaki lain. Setelah bertemu dengan tim pertama di basecamp, mereka kemudian melaporkan kepada petugas bahwa satu anggota rombongan masih berada di jalur pendakian.

Pihak BPBD mengimbau para pendaki agar selalu memperhatikan keselamatan selama melakukan aktivitas pendakian, tidak memisahkan diri dari rombongan, serta memastikan komunikasi tetap terjaga selama berada di jalur pendakian.

Dengan demikian, penting bagi para pendaki untuk selalu waspada dan berhati-hati saat melakukan pendakian, serta mematuhi instruksi dan petunjuk dari petugas setempat. Dengan kesadaran dan kewaspadaan yang tinggi, risiko kecelakaan dan kehilangan dapat diminimalkan.

About Candice Da Silva 310 Articles
Di balik karya-karyanya yang mendalam, Candice Da Silva menampilkan diri sebagai seorang penulis yang memadukan keahlian teknik dengan ketertarikan pada dinamika politik lokal, semua itu dibalut dengan hobi memasak masakan pedas yang memicu rasa. Berbasis di Jogja, ia memulai karirnya pada tahun 2023, membawa perspektif unik yang elegan dan profesional ke dalam setiap tulisannya. Dengan latar belakang yang kuat dalam bidang teknik, Candice membawa wawasan yang berbeda ke dalam analisis politik dan sastra. Gaya penulisannya yang sangat profesional dan elegan membuatnya menjadi suara yang disegani di kancah sastra Jogja.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*