Situs Portal Berita Stiperamuntai – 20 April 2026 | Di sebuah sudut Kota Surabaya, kanvas-kanvas terbentang di pelataran Balai Pemuda. Kuas bergerak perlahan, merekam jejak bangunan tua yang telah menyaksikan puluhan tahun denyut seni. Di saat yang sama, di ruang-ruang kecil pendidikan anak usia dini, dongeng sederhana mengalir, menanamkan nilai keberanian dan gotong royong pada anak-anak.
Ruang Tumbuh
Balai Pemuda bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah ruang memori kolektif, tempat lahirnya banyak seniman yang membentuk wajah kebudayaan kota. Dari generasi ke generasi, ruang ini menjadi titik temu kreativitas, sekaligus bukti bahwa kota tidak hanya dibangun dari beton, tetapi juga dari imajinasi.
Kegiatan melukis bersama bertajuk “Beauty of Balai Pemuda Surabaya” yang digelar menjelang Hari Kartini menunjukkan satu hal penting bahwa seni masih diberi ruang. Pemerintah kota mencoba menjaga kesinambungan ekosistem kreatif, meskipun di tengah tekanan pembangunan yang kerap mengedepankan aspek ekonomi.
Kartini Keluarga
Di sinilah letak relevansi Kartini. Ia bukan hanya simbol perjuangan perempuan, tetapi juga simbol keberanian berpikir dan berekspresi. Ketika ruang seni dipertahankan, sesungguhnya kota sedang menjaga ruang kebebasan, sesuatu yang dulu diperjuangkan Kartini dalam konteks zamannya.
Program dongeng “7 Kebiasaan Baik Anak Indonesia Hebat + 2” yang diinisiasi pemerintah kota menunjukkan pendekatan yang menarik. Pendidikan karakter tidak lagi disampaikan secara kaku, tetapi melalui cerita yang dekat dengan dunia anak.
Simbol Substansi
Peringatan Hari Kartini sering kali terjebak dalam simbolisme seperti lomba kebaya, seremoni, atau pidato formal. Padahal, esensi Kartini jauh melampaui itu. Ia berbicara tentang perubahan struktur sosial, akses pendidikan, dan kebebasan berpikir.
Surabaya, dengan berbagai programnya, menunjukkan upaya untuk keluar dari jebakan simbolisme tersebut. Seni diberi ruang, pendidikan diperkuat, nilai lokal dihidupkan. Namun, pertanyaan kritis tetap perlu diajukan: apakah semua ini sudah menyentuh akar persoalan?
Ketimpangan akses, tekanan ekonomi keluarga, hingga tantangan urbanisasi masih menjadi realitas yang dihadapi banyak perempuan. Di sisi lain, ruang publik yang inklusif masih perlu terus diperluas agar perempuan tidak hanya menjadi partisipan, tetapi juga pengambil keputusan.
Solusi ke depan tidak bisa parsial. Pertama, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan kebijakan, terutama dalam mendukung ekosistem seni dan pendidikan karakter. Kedua, kolaborasi dengan komunitas harus diperkuat, karena perubahan sosial tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.
Kartini bukan sekadar nama dalam kalender nasional. Ia adalah ide yang terus bergerak, menuntut relevansi di setiap zaman. Surabaya telah menunjukkan langkah-langkah awal yang menjanjikan, tetapi perjalanan masih panjang. Menjelang Hari Kartini, pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi bagaimana merayakan, melainkan bagaimana melanjutkan. Sebab, nyala Kartini tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu dijaga, dirawat, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Leave a Reply