Sejarah Lahirnya Bahasa Nasional
Situs Portal Berita Stiperamuntai – 03 Mei 2026 | Wali Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Ramlan Nurmatias menyebutkan bahwa sejarah lahirnya bahasa persatuan Indonesia berawal di antaranya dari Kweekschool yang saat ini bernama SMAN 2 Bukittinggi. Sebelum Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada tahun 1972, cikal bakal bahasa persatuan itu adalah Bahasa Melayu dari ejaan Van Ophuijsen.
Ia dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moh Taib Sultan Ibrahim. Bahasa Melayu ini dibakukan lewat ejaan yang lahir di Kweekschool. Dari sinilah lahir bahasa pemersatu bangsa.
Peran Kweekschool dalam Sejarah Bahasa Nasional
Kweekschool tidak hanya melahirkan sistem bahasa, tetapi juga tokoh-tokoh besar yang berperan dalam dunia pendidikan dan kebangsaan, termasuk dalam perkembangan perguruan tinggi di Indonesia.
Sejarawan sekaligus jurnalis senior Hasril Chaniago mengatakan, tanpa Kweekschool tidak ada Bahasa Indonesia. Awal pembakuan Bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi Bahasa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari penyusunan Ejaan Van Ophuijsen pada akhir abad ke-19 di Fort de Kock yang merupakan sebutan lama untuk Kota Bukittinggi.
Ejaan Van Ophuijsen dan Perkembangan Bahasa Nasional
Ejaan Van Ophuijsen disusun oleh Charles Adriaan van Ophuijsen bersama dua guru pribumi, Engku Nawawi dan Mohammad Taib Sultan Ibrahim saat mereka mengajar di Kweekschool.
Ejaan ini menjadi tonggak awal standardisasi Bahasa Melayu dengan huruf Latin. Sistem ini kemudian digunakan secara luas dalam pendidikan, administrasi kolonial, hingga penerbitan resmi setelah diperkenalkan melalui buku Kitab Logat Melayu pada 1901 di Batavia.
Ciri khas ejaan ini antara lain penggunaan “oe” untuk bunyi “u”, “tj” untuk “c”, dan “dj” untuk “j”.
Peringatan 170 Tahun Kweekschool
Seminar kebangsaan dengan tema “Jejak Intelektual, Pemikiran, dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sekolah Rajo” diselenggarakan dalam rangkaian peringatan 170 Tahun Kweekschool.
Sebuah sejarah panjang hadirnya lembaga pendidikan tertua di Sumatera. Momentum 170 tahun Kweekschool menjadi sebuah refleksi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar stakeholder Sikola Radjo-Kweekschool, baik pihak sekolah maupun alumni.
Peringatan ini menghadirkan sejumlah nara sumber di antaranya Hasril Chaniago, Isa Gautama, dan Dedi Yusmen.
Dalam peringatan ini, Sekretaris Pengurus Pusat IASMA Birugo, Febri Zulhenda, menyebutkan bahwa momentum 170 tahun Kweekschool menjadi sebuah refleksi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar stakeholder Sikola Radjo-Kweekschool.
Leave a Reply