Pengamanan Jemaah Salat Jumat di Nabawi
Situs Portal Berita Stiperamuntai – 11 Mei 2026 | Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus mematangkan persiapan guna memastikan keamanan dan kenyamanan jemaah pada pelaksanaan salat Jumat perdana di Masjid Nabawi demi mewujudkan visi Tri Sukses Haji, khususnya Sukses Ritual.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Khalilurrahman menegaskan bahwa seluruh elemen petugas dan jemaah harus bersinergi dalam menghadapi kondisi di lapangan.
“Karena cuaca di Madinah cukup ekstrem, bisa mencapai siang hari bisa mencapai 35 derajat celcius, oleh karena itu kami menghimbau kepada jemaah yang akan melaksanakan jumat pertama jangan lupa membawa alat pelindung diri,” ujar Khalilurrahman di Madinah, Kamis (23/4/2026).
Pencegahan Insiden Kaki Melepuh
Untuk mencegah insiden kaki melepuh, ia memberikan edukasi agar jemaah selalu menjaga alas kakinya dengan baik saat memasuki area masjid.
“Sandal supaya dimasukkan dalam kresek kantong plastik kemudian dimasukkan dalam tas dan dibawa, jangan ditinggal karena pintu masuk Masjid Nabawi jumlahnya banyak,” jelasnya.
Jika jemaah kehilangan alas kaki, Kemenhaj telah menyiapkan solusi cepat dan melarang jemaah pulang tanpa alas kaki.
“Cari petugas, nanti petugas di area Masjid Nabawi sudah punya stok sandal,” tambah Khalilurrahman.
Edukasi Jemaah
Jemaah juga diimbau selalu bergerak dalam rombongan agar saling menjaga satu sama lain.
“Jangan lupa untuk ketika ke masjid jangan sendiri-sendiri, upayakan beregu 10 orang supaya nanti ketika mereka keluar tidak lupa hotelnya,” paparnya.
Edukasi lainnya yang ditekankan adalah agar jemaah mengenali identitas diri dan tempat menginapnya.
“Jemaah juga jangan lupa membawa kartu identitas dalam hal ini adalah kartu nusuk, kemudian juga jangan lupa membawa kartu hotel,” pesannya.
Waktu Keberangkatan
Mengenai waktu keberangkatan, jemaah disarankan datang lebih awal untuk mengamankan tempat di dalam masjid.
“Bagi jemaah yang akan melakukan salat di Masjid Nabawi perdana, himbauan kami berangkat mungkin sekitar jam 10 atau 10.30,” urainya.
Mitigasi Kesehatan
Untuk menghindari risiko tertinggal rombongan atau dehidrasi, mitigasi kesehatan juga disampaikan secara detail.
“Wudhunya di hotel ya, minumnya itu jangan langsung, minum tiga sekali teguk dikit-dikit setiap 20 sampai 30 menit agar tidak dehidrasi,” saran Khalilurrahman.
Implementasi Haji Ramah Lansia dan Disabilitas juga menjadi prioritas utama para petugas di lapangan.
“Jemaah yang lansia tentu nanti bisa ketua kloter berkoordinasi dengan layanan lansia atau disabilitas yang ada di sektor,” tuturnya.
Namun, bagi lansia yang kondisinya tidak memungkinkan, beribadah di pemondokan dinilai lebih aman.
“Jemaah yang memang secara fisik tidak memungkinkan untuk salat, cukuplah salat di hotel masing-masing,” imbaunya.
Di sisi lain, petugas haji diwajibkan untuk proaktif membantu jemaah di setiap sudut Masjid Nabawi.
“Jika melihat jemaah yang sendirian agar didampingi, atau melihat gejala jemaah bingung agar segera didekati dan diberikan bimbingan,” tegasnya kepada para petugas.
Agar jemaah mudah mengenali petugas, aturan pemakaian seragam diterapkan secara ketat tanpa pengecualian.
“Wajib menggunakan seragam petugas seperti ini, tidak ada petugas yang menggunakan baju koko kemudian pakai sarung,” jelasnya.
Kemenhaj tidak akan segan menindak petugas yang melalaikan komitmen pelayanannya kepada jemaah.
“Petugas yang melanggar kode etik, melanggar pakta integritas petugas di antaranya tidak menggunakan seragam nanti akan ada tindakan dari Inspektorat Jenderal Kementerian Haji dan Umrah,” pungkasnya.
Leave a Reply