Muktamar NU 2026: Integritas dan Prinsip ABUKTOR dalam Pemilihan Kepemimpinan

Muktamar NU 2026: Integritas dan Prinsip ABUKTOR dalam Pemilihan Kepemimpinan
Muktamar NU 2026: Integritas dan Prinsip ABUKTOR dalam Pemilihan Kepemimpinan

Muktamar NU 2026: Momentum Strategis untuk Perubahan

Situs Portal Berita Stiperamuntai – 13 Mei 2026 | Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Juli–Agustus 2026, wacana pembenahan internal organisasi kian menguat. Salah satu sorotan datang dari Khalilur R Abdullah Sahlawiy yang menekankan pentingnya integritas sebagai fondasi utama dalam menentukan kepemimpinan.

Rangkaian Muktamar yang diawali Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) pada April 2026 disebut sebagai momentum strategis untuk melakukan perubahan. Rais Aam Miftachul Akhyar bahkan menyebut agenda ini sebagai upaya untuk “membuka lembaran baru” dalam perjalanan organisasi.

Prinsip ABUKTOR sebagai Standar Minimum

Namun demikian, Khalilur mengingatkan bahwa perubahan tidak boleh berhenti pada simbolisme semata. “Setiap lembaran baru hanya bermakna jika ditulis dengan nilai yang baru. Jika tidak, ia hanya menjadi pengulangan dari problem lama dalam format berbeda,” ujarnya.

Ia menegaskan, Muktamar tidak cukup dimaknai sebagai forum pergantian kepemimpinan, melainkan harus menjadi arena penentuan arah moral organisasi. Dalam kerangka tersebut, Khalilur mengangkat prinsip ABUKTOR (Asal Bukan Koruptor) sebagai standar minimum dalam proses pemilihan pemimpin.

Krisis Kepercayaan dan Integritas Kepemimpinan

No Isu Penyebab
1 Krisis Kepercayaan Isu tata kelola haji, distribusi kuota, layanan katering, pemondokan, hingga pengadaan layanan

Khalilur menjelaskan, dalam perspektif ilmu sosial, NU merupakan jaringan kepercayaan yang menopang kohesi masyarakat, sejalan dengan konsep social capital yang dikemukakan Robert D. Putnam. “Jika kepercayaan itu terganggu, yang rusak bukan hanya organisasi, tetapi juga kohesi sosial yang lebih luas,” katanya.

Momentum untuk Memulihkan Legitimasi Moral

Khalilur menegaskan, Muktamar NU 2026 harus menjadi titik balik untuk memulihkan legitimasi moral organisasi. “Muktamar NU 2026 harus menjadi momentum untuk memulihkan kepercayaan publik, menegaskan kembali nilai-nilai organisasi, dan memastikan NU tidak menjadi alat kepentingan sempit,” katanya.

Ia pun menutup dengan penegasan bahwa integritas merupakan syarat mutlak bagi kepemimpinan ke depan. “Sebelum membicarakan siapa yang akan memimpin, NU harus memastikan satu hal: bahwa kepemimpinan itu bersih,” pungkasnya.

About Albina Potushnyak 380 Articles
Di antara hiruk pikuk kota Malang, hiduplah Albina Potushnyak, seorang penulis yang tidak sengaja menginjakkan kaki di dunia berita setelah lulus dari jurusan sastra. Ketika tidak sibuk menyelami buku sejarah dan mencari inspirasi, dia bisa ditemukan menyaksikan pertandingan e-sports sambil berteriak-teriak seperti penggemar sejati. Sejak menapakkan karirnya sejak 2019, Albina telah membuktikan bahwa bahkan mereka yang "nyasar" bisa menemukan jalan mereka sendiri dan membuatnya penuh dengan tawa dan kata-kata yang tajam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*