Swasembada Pangan Diperdebatkan, Kritik Akademisi Ditanggapi Warganet dan Petani

Swasembada Pangan Diperdebatkan, Kritik Akademisi Ditanggapi Warganet dan Petani
Swasembada Pangan Diperdebatkan, Kritik Akademisi Ditanggapi Warganet dan Petani

Swasembada Pangan: Antara Kritik dan Fakta

Situs Portal Berita Stiperamuntai – 13 April 2026 | Pernyataan yang meragukan capaian swasembada pangan di era Prabowo Subianto menuai bantahan luas, terutama dari kalangan petani dan warganet. Di berbagai platform media sosial, publik menilai tudingan tersebut tidak berdasar karena dianggap mengaburkan data resmi pemerintah serta tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Sebelumnya, pengamat Feri Amsari mempertanyakan klaim swasembada pangan, termasuk penghentian impor beras yang dinilainya tidak masuk akal. Namun, pernyataan itu langsung direspons oleh akun TikTok @izin_berpendapat yang menegaskan bahwa capaian swasembada beras justru sudah dimulai sejak 2025.

Tanggapan Warganet dan Petani

Bantahan juga menyasar klaim terkait penyusutan lahan sawah. Data yang beredar menunjukkan bahwa luas panen padi nasional justru mengalami peningkatan signifikan. “Luas panen padi kita pada tahun 2024 itu 10,05 juta hektar. Di 2025 ketika kita swasembada beras itu angkanya naik 12,69 persen jadi 11,32 juta hektar,” lanjutnya.

Selain faktor luas lahan, kebijakan pemerintah disebut menjadi kunci keberhasilan. Program pembelian gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram dinilai mampu meningkatkan motivasi petani sekaligus mendorong kenaikan produksi. “Program utama untuk swasembada beras itu membeli mahal gabah dari petani. Efeknya petani lebih termotivasi, produksinya naik, dan petani juga lebih sejahtera,” tambahnya.

Pengakuan Internasional dan Dampak Pasar Global

Akun tersebut juga menyebut capaian ini mendapat pengakuan dari Food and Agriculture Organization (FAO), bahkan berdampak pada pasar global. “FAO mengakui swasembada beras Indonesia. Gara-gara Indonesia stop impor itu harga beras dunia turun sebesar 44 persen,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah petani dari berbagai daerah turut membagikan pengalaman langsung mereka. Mayoritas mengaku merasakan peningkatan kesejahteraan, baik dari sisi harga jual gabah maupun kemudahan akses pupuk subsidi.

“Aku petani muda ucapkan terima kasih BPK Presiden Prabowo, 3 bulan lagi panen,” ujar Rohman Abdi Minah. “Sebelum Presiden Prabowo, saya jual gabah kering 570 ribu–580 ribu per kuintal, sekarang tiap panen minimal 700 ribu per kuintal, harga pupuk juga makin murah,” ungkap akun salep888.

Tinjauan Akademis dan Kritik

Pengamat pertanian, Prof. Hasil Sembiring, ahli padi di International Rice Research Institute (IRRI) menilai pernyataan tersebut bukan sekadar keliru, melainkan berbahaya karena membangun narasi yang melemahkan kepercayaan publik terhadap capaian strategis nasional. “Ini bukan kritik akademik. Ini narasi yang pola dan arahnya identik dengan kepentingan mafia pangan yang selalu merendahkan capaian bangsa sendiri tanpa dasar yang jelas,” tegas Prof. Hasil Sembiring.

Ia menilai cara berpikir yang disampaikan Feri Amsari tidak memenuhi standar akademik. Pernyataan keras tanpa basis data, tanpa rujukan ilmiah, serta minim pemahaman kondisi lapangan justru menjadi bentuk pengaburan fakta di ruang publik. “Ada orang pikirannya kotor, menolak data resmi negara dan lembaga internasional sekaligus, kita bertanya ini akademisi atau justru sedang memainkan agenda tertentu?” lanjutnya.

About Marcos Méndez 80 Articles
Dari Semarang, kota yang penuh dengan cerita, Marcos Méndez memulai petualangannya di dunia penulisan sejak 2014, sering membawanya keliling Indonesia untuk menyajikan liputan yang menarik. Sebagai seorang tech enthusiast, ia selalu menggabungkan teknologi dengan passionnya pada buku sejarah, menciptakan perspektif unik dalam setiap tulisannya. Dalam perjalanan karirnya, Marcos Méndez terus mengeksplorasi dan mencari inspirasi baru, membentuknya menjadi penulis yang dinamis dan kreatif.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*