Hidayat Arsani: Cheng Beng Simbol Penghormatan

Hidayat Arsani: Cheng Beng Simbol Penghormatan
Hidayat Arsani: Cheng Beng Simbol Penghormatan

Situs Portal Berita Stiperamuntai – 06 April 2026 | Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menilai tradisi Cheng Beng sebagai simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam masyarakat.

Tradisi Cheng Beng

Tradisi Cheng Beng bukan sekadar tradisi budaya dan keagamaan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur seperti penghormatan, kepedulian sosial, dan ikatan kekeluargaan yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi Cheng Beng sendiri merupakan ritual pembersihan makam yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa setiap tahun.

Kegiatan ini biasanya diawali dua pekan sebelum puncak perayaan pada 4 atau 5 April. Pada momen tersebut, keluarga dari berbagai daerah bahkan luar negeri pulang untuk berziarah, membersihkan makam, serta mendoakan leluhur dan anggota keluarga yang telah wafat.

Penghormatan kepada Leluhur

"Ini adalah cara kita mengenang jasa, doa, dan kasih sayang para pendahulu," ujar Hidayat. Ia menambahkan bahwa tradisi ini juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik, menghargai sejarah keluarga, serta mempererat tali persaudaraan antaranggota masyarakat.

Perayaan Cheng Beng di Bangka Belitung

Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, turut mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam perayaan tersebut. Ia bahkan berharap kawasan pemakaman Sentosa, yang dikenal sebagai salah satu kompleks pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara, dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya.

Sementara itu, anggota legislatif Rudianto Tjen menilai Cheng Beng juga menjadi momentum memperkuat toleransi dan harmoni antarumat beragama. Ia menegaskan pentingnya pemerintah memberikan perhatian yang setara terhadap berbagai perayaan keagamaan, termasuk Maulid Nabi dan Isra Mi’raj, sebagai wujud keberagaman yang harmonis.

Tradisi Cheng Beng di Bangka Belitung diharapkan terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya sekaligus perekat sosial masyarakat. Dengan demikian, tradisi ini dapat terus menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan memperkuat nilai kebersamaan dalam masyarakat.

About Candice Da Silva 23 Articles
Di balik karya-karyanya yang mendalam, Candice Da Silva menampilkan diri sebagai seorang penulis yang memadukan keahlian teknik dengan ketertarikan pada dinamika politik lokal, semua itu dibalut dengan hobi memasak masakan pedas yang memicu rasa. Berbasis di Jogja, ia memulai karirnya pada tahun 2023, membawa perspektif unik yang elegan dan profesional ke dalam setiap tulisannya. Dengan latar belakang yang kuat dalam bidang teknik, Candice membawa wawasan yang berbeda ke dalam analisis politik dan sastra. Gaya penulisannya yang sangat profesional dan elegan membuatnya menjadi suara yang disegani di kancah sastra Jogja.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*