Situs Portal Berita Stiperamuntai – 10 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup melemah terbebani oleh kekhawatiran terhadap pasokan energi di tingkat global. IHSG ditutup melemah 249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke posisi 690,76.
Penyebab Melemahnya IHSG
Bursa regional Asia sebagian besar melemah pada hari Jumat seiring kenaikan harga minyak yang menekan sentimen, di tengah mandeknya negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta berlanjutnya gangguan di Selat Hormuz. Dari mancanegara, ketidakpastian pasokan yang masih berlangsung membuat harga energi tetap tinggi, sehingga memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan global.
Pertemuan FOMC dan Bank of Japan
Pelaku pasar akan menantikan FOMC Meeting oleh The Fed, yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,53- 3,75 persen. Selain itu, dari AS dijadwalkan akan dirilis data consumer confidence, data perumahan, PDB kuartal I-2026, personal income, personal spending, indeks PCE prices dan ISM manufacturing index. Pelaku pasar juga akan mencermati pertemuan Bank of Japan (BoJ) pada pekan depan, yang diperkirakan juga mempertahankan suku bunga acuan tetap di level 0,75 persen, meskipun data inflasi di Jepang meningkat.
Dampak terhadap Perekonomian Indonesia
Dari dalam negeri, IHSG melemah setelah Fitch Ratings menurunkan outlook kredit empat bank besar di Indonesia, yaitu Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Negara Indonesia (BBNI), dari stabil menjadi negatif. Di sisi lain, untuk melindungi stok minyak mentah di tengah konflik di kawasan Timur Tengah, pemerintah mengamankan 150 juta barel minyak Rusia sebagai bagian dari strategi energi nasional.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor barang konsumen non primer turun paling dalam minus sebesar 4,14 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor barang energi yang turun masing-masing 4,03 persen dan 3,82 persen. Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu PSDN, BNBA, BRNA, CTTH, dan SMMT. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni AMIN, SKBM, LPPF, KRYA, HOPE.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.685.048 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 47,12 miliar lembar saham senilai Rp24,34 triliun. Sebanyak 83 saham naik, 670 saham menurun, dan 62 tidak bergerak nilainya.
Leave a Reply