Pengaruh Kebijakan Bank Indonesia
Situs Portal Berita Stiperamuntai – 25 April 2026 | Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai kombinasi kebijakan Bank Indonesia (BI) sudah tepat untuk menahan agar rupiah tidak jatuh lebih dalam di tengah tekanan akibat belum meredanya konflik di Timur Tengah. Menurut Riefky, kebijakan yang dilakukan BI sudah tepat, namun jika BI tidak melakukan ini, pelemahan rupiah akan semakin parah.
Intervensi dan Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Bank Indonesia terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi, baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Baru-baru ini, BI menurunkan ambang batas (threshold) tunai beli valas terhadap rupiah yang berlaku mulai April 2026. Di sisi lain, BI juga memberi pengecualian atas larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri (offshore) bagi dealer utama PUVA tertentu guna mendukung stabilitas rupiah.
Dampak Kebijakan Penurunan Threshold Tunai Beli Valas
Rizal menilai langkah penurunan threshold pembelian valas tepat dalam menekan permintaan dolar yang bersifat precautionary. Ia juga menilai kebijakan tersebut memberi sinyal bahwa permintaan valas harus berbasis kebutuhan riil, meski tetap perlu dijaga agar tidak mengganggu aktivitas impor dan pembayaran eksternal korporasi.
Pengaruh Kebijakan terhadap Stabilitas Rupiah
Berbagai kebijakan yang diambil Bank Indonesia bertujuan untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, menurut Rizal, efektivitas kebijakan tersebut terbatas apabila tidak disertai pengawasan ketat, karena berisiko bergeser menjadi kanal spekulasi, bukan murni lindung nilai. Ia juga menilai bahwa penguatan struktur bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang diupayakan bank sentral cukup efektif sebagai instrumen antara untuk menarik inflow meski tidak bisa menjadi substitusi jangka panjang tanpa dukungan kredibilitas fiskal dan kebijakan.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini atau Jumat (24/4) ditutup pada level Rp17.229 per dolar AS, menguat 57 poin atau 0,33 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.286 per dolar AS. Secara keseluruhan, Rizal memandang fundamental domestik relatif kuat, tetapi rupiah tetap rentan karena tekanan utama berasal dari faktor global dan kenaikan risk premium.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas rupiah saat ini lebih ditentukan oleh sentimen eksternal daripada kekuatan domestik semata. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil Bank Indonesia harus terus dipantau dan disesuaikan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Leave a Reply