Peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika: Peran Budaya untuk Perdamaian

Peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika: Peran Budaya untuk Perdamaian
Peringatan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika: Peran Budaya untuk Perdamaian

Latar Belakang Konferensi Asia Afrika

Situs Portal Berita Stiperamuntai – 20 April 2026 | Konferensi Asia Afrika (KAA) merupakan salah satu momen bersejarah dalam kancah internasional yang berlangsung pada tahun 1955 di Bandung, Indonesia. Konferensi ini dihadiri oleh 29 negara dari Asia dan Afrika, dengan tujuan utama untuk memperkuat kerja sama dan solidaritas di antara negara-negara baru yang merdeka di kedua benua tersebut.

Peringatan 71 Tahun KAA

Pada tahun ini, Kementerian Kebudayaan menggelar peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika dengan tema ‘Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia‘. Acara ini bertujuan untuk menghidupkan kembali semangat Dasasila Bandung yang menjadi landasan bagi kerja sama dan perdamaian internasional. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa budaya memiliki peran penting sebagai sarana membangun perdamaian dunia, terutama di tengah fase ketidakpastian global dan erosi kepercayaan antarnegara.

“Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan. Tidak boleh ada perang yang menghapus sejarah suatu bangsa atau membungkam identitas,” kata Fadli Zon.

Peran Indonesia dalam Perdamaian Dunia

Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, tetap berkomitmen pada prinsip non-blok, memperkuat kerja sama global, serta menjunjung nilai-nilai Piagam PBB. Dalam peringatan 71 tahun KAA, Indonesia menegaskan kembali perannya sebagai pemimpin dalam mempromosikan perdamaian dan kerja sama internasional.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan juga mengusulkan kawasan Simpang Lima hingga Jalan Asia Afrika sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, untuk menjaga identitas sejarah kota dan melestarikan nilai-nilai budaya yang telah menjadi bagian dari sejarah konferensi.

Kegiatan Peringatan 71 Tahun KAA

Peringatan 71 tahun KAA tidak hanya berupa upacara peringatan, tetapi juga diisi dengan kegiatan dialog kebudayaan yang menghadirkan Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hassan Farag Elshemy, anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa, serta akademisi hubungan internasional Anton Aliabbas.

Acara ini juga mencakup peluncuran buku “Konferensi Asia Afrika dalam Gambar” yang merekam dokumentasi visual peristiwa KAA, serta pameran foto dan narasi sejarah secara kuratorial. Perwakilan diplomatik dari negara peserta KAA 1955 turut hadir, menunjukkan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama dan perdamaian dunia.

Dengan demikian, peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika menjadi momentum penting bagi Indonesia dan dunia internasional untuk merefleksikan kembali peran budaya dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, diharapkan kerja sama dan solidaritas antarnegara dapat diperkuat, sehingga tercipta dunia yang lebih harmonis dan damai.

About Cyrill Gerard 156 Articles
Di Makassar, Cyrill Gerard mengembangkan passionnya sebagai penulis sejak 2008, memulai dari blogger hobi yang observatif terhadap dinamika sosial media. Dalam waktu luang, ia menyukai mengoleksi piringan hitam dan menganalisis fenomena di dunia maya. Dengan latar belakang ini, Cyrill membangun identitas sebagai pengamat sosial yang tajam dan kreatif. Ia memadukan hobi dan minatnya untuk menciptakan konten menarik dan inspiratif.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*