Toleransi di Tengah Hamparan Gumuk Pasir Parangkusumo

Pendahuluan

Situs Portal Berita Stiperamuntai – 30 Mei 2026 | Di tengah hamparan Gumuk Pasir Parangkusumo, sebuah fenomena unik terjadi. Ribuan orang dari berbagai latar belakang dan agama berkumpul untuk melaksanakan Shalat Idul Adha. Suster Joyce, seorang biarawati Katolik, hadir di tengah-tengah mereka, menunjukkan betapa toleransi dan kebersamaan dapat terjalin dengan baik.

Shalat Idul Adha di Gumuk Pasir Parangkusumo

Sejak pagi, kawasan Gumuk Pasir Parangkusumo telah dipenuhi ribuan orang yang datang untuk melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah. Sejuknya udara perlahan mulai menghilang ketika matahari terbit dari ufuk timur. Langit yang sebelumnya diselimuti warna keabu-abuan mulai berubah terang, sementara hamparan pasir perlahan diterpa cahaya fajar.

Di waktu yang sama, kumandang takbir terdengar bersahut-sahutan dari pengeras suara, memecah sunyinya kawasan gumuk pasir yang biasanya lebih dikenal sebagai objek wisata dan lokasi bermain jip wisata. Permukaan pasir perlahan dipenuhi jejak kaki jamaah yang melangkah menanjak, meninggalkan bekas yang langsung hilang tersapu angin.

Toleransi dan Kebersamaan

Suster Joyce, yang merupakan biarawati dari Kongregasi Puteri Reina Rosari, hadir di tengah-tengah jamaah untuk melakukan riset mengenai pelaksanaan Shalat Idul Adha di kawasan tersebut. Ia merasa diterima dengan baik oleh jamaah lain, meskipun mengenakan pakaian biarawati yang kontras dengan mukena putih dan pastel yang dikenakan oleh perempuan lain.

Penerimaan hangat dari jamaah tersebut membuat Suster Joyce merasa menjadi bagian dari semua yang ada di lapangan. Ia berbincang ringan dengan mereka yang sedang merapikan mukena dan sajadah, menunjukkan betapa toleransi dan kebersamaan dapat terjalin dengan baik.

Ruang Berjumpa

Kawasan Gumuk Pasir Parangkusumo menarik perhatian Suster Joyce untuk diteliti karena merupakan bentang alam unik di kawasan pesisir selatan yang sarat cerita dan mitos masyarakat. Shalat Idul Adha di lokasi tersebut menunjukkan bagaimana praktik ibadah dapat hadir dan menyatu dengan lanskap alam terbuka.

Di tengah kepadatan jamaah, Suster Joyce merenungkan momen kebersamaan itu melalui sebuah refleksi filosofis yang mendalam. Bagi dia, “Orang lain” adalah Tuhan yang tampak, sekaligus bagian dari dirinya dalam rupa yang lain. Kalimat itu seolah menangkap dengan sempurna suasana yang ia rasakan pagi itu di Gumuk Pasir Parangkusumo.

Hamparan pasir yang biasanya riuh oleh wisatawan dan kendaraan jip, pagi itu menjelma menjadi ruang pertemuan yang memperlihatkan wajah asli toleransi di Yogyakarta. Sebuah potret yang bukan hanya tentang perayaan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia dapat saling menghormati dan hadir utuh satu sama lain di tengah perbedaan keyakinan.

About Cyrill Gerard 480 Articles
Di Makassar, Cyrill Gerard mengembangkan passionnya sebagai penulis sejak 2008, memulai dari blogger hobi yang observatif terhadap dinamika sosial media. Dalam waktu luang, ia menyukai mengoleksi piringan hitam dan menganalisis fenomena di dunia maya. Dengan latar belakang ini, Cyrill membangun identitas sebagai pengamat sosial yang tajam dan kreatif. Ia memadukan hobi dan minatnya untuk menciptakan konten menarik dan inspiratif.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*