Situs Portal Berita Stiperamuntai – 14 Mei 2026 | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah yang melemah hari ini dipengaruhi oleh gejolak global. Hal ini disampaikan dalam seminar nasional terkait aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Penyebab Pelemahan Rupiah
Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi melemah 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.
Langkah Pemerintah
Pemerintah terus melakukan peninjauan lebih lanjut agar dapat menemukan antisipasi, mengingat asumsi nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2026 adalah Rp16.500 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) juga telah mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen, yang mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal. BI juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
Dampak Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah dapat berdampak pada perekonomian Indonesia, terutama pada sektor ekspor dan impor. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, yang dapat berdampak pada inflasi dan kemampuan daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah perlu terus memantau situasi ekonomi global dan melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan perekonomian Indonesia.
Di sisi lain, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipicu ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran yang mendorong kenaikan harga energi.
“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ucapnya.
Untuk meredam volatilitas, BI disebut juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
BI juga menyampaikan bahwa kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing sekaligus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujarnya.
Leave a Reply